Sejarah Stasiun Baru Kota Malang

Siapa yang tak kenal Malang dengan sejarahnya, banyak sekali tempat bersejarah di Kota Malang yang masih dilestarikan hingga saat ini, contohnya dari segi arsitektur bangunan kuno peninggalan Belanda. Salah satunya yaitu Stasiun Baru Kota Malang. Kenapa Dinamakan Stasiun Kota Baru Malang  karena sebelumya Kota Malang memiliki Stasiun Kota Lama yang terletak di Jl. Kol. Sugiono dan hingga saat ini masih aktif. Stasiun Malang merupakan stasiun kereta api terbesar di Kota Malang yang terletak di kecamaayan Klojen dengan ketinggian +444 dpl.
Stasiun Malang dibangun pada tahun 1941 oleh J. Van Der Eb, namun sebelumnya jalan kereta api Surabaya-Malang sudah dibuka sejak 1878. Pada masa itu sepanjang jalan raya Kayoetangan-Tjelaket baru terdapay beberpa rumah orang Eropa. Di sebelah timur dari jalan raya tersebut pada itu masih berupa sawah meski sudah terdapat tangsi militer di sebelah itmur jalan kereta api. Oleh sebab itu stasiun kereta api ditempatkan di sebelah timur rel kereta api dan berhadapan langsung dengan tangsi militer. Tangsi militer  yang besar di sebelah timur rel ini merupakan penghambat besar bagi perkembangan Kota Malang ke timur.
Perkembangan kota ke arah barat yang tanahnya lebih tinggi sekitar tahun1920an mulai terlihat dengan jelas. Oleh akrena itu letak stasiun lama berada di sebelah timur rel kereta api menjadi tidak menguntungkan, lagipula lapangan JP Coen (sekarang dikenal Alun-alun Bundar) sudah dibayangkan sebagai pusat pemerintahan yang juga dilalui jalan utamatimur-barat. dengan demikian pemindahan letak stasiun yang berada di sebelah timur rel ke sebelah barat akan lebih tepat dan serasi dengan perencanaan kota. Bangunan baru ini terus diapakai hingga sekarang. Sementara bagunan lama kini bersebelahan degan Dipo Kereta & Lok Malang difungsikan sebagai kantor dan gudang untuk penyimpanan alat-alat KA.

Uniknya pada Stasiun Kota Baru Malang terdapat terowongan antara peron 2 dan 3, hal ini dimaksudkan sebagai tempat perlindungan pada zaman dulu andaikata ada serangan udara. Barangakali ini merupakan keistimewaan stasiun kota yang jarang dijumpai pada stasiun kereta api di kota-kota lainnya. Atap peron terbuat dari beton dengan sistem konstruksi shell tebalnya 5cm. Secara keseluruhan stasiun ini memberikan kesan sebagai arsitektur fungsional yang berkembang antara tahun 1920-1940an di Eropa dan sering juga disebut sebagai Internatinal Style.



Postingan terkait:

5 Tanggapan untuk "Sejarah Stasiun Baru Kota Malang"

  1. Terima kasih infonya, sedikit membantu bagi para pembaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, terima kasih juga kunjungannya

      Delete
  2. tiap kota pasti memiliki sejarah entah itu dipublikasi atau tidak, tapi menurut saya ini sudah bagus untuk pengetahuan

    ReplyDelete
  3. Saya tdk punya blog boleh ikut komen?
    Coba foto isi dr stasiunnya disertakan agar lebih tidak penasaran. Selebihnya oke informasinya

    ReplyDelete